Donderdag 16 Mei 2013


Mengajak Pemburu Berhenti Berburu

Awalnya saya hanya mengenal Si Bondol yang suka mengganggu sawah, prenjak yang kerap membangunkan para pemuda yang suka mbangkong (bangun kesiangan) dengan kicauan paginya yang khas sambil menunggingkan ekornya ke atas, siulan kutilang yang terpenjara dalam sangkar anak kecil tetangga, atau burung gereja yang awalnya kuanggap berasal dari gereja.
Namun, ketertarikan pada burung mulai tumbuh ketika bertemu dengan mata kuliah yang saat itu jarang diambil mahasiswa, Ornithology. Pada semester itu hanya 8 orang yang mengikuti kelasnya. Namun kehadiran seorang dosen pengajar yang juga pengamat burung, Marizal Ahmad, begitu memukau kami.
Saat pengenalan pengamatan burung, ia dapat mengidentifikasi burung-burung yang ada di kampus hanya dari kicauannya saja. Ia pun hafal nama ilmiahnya dengan baik. Berdasarkan pengalamannya, ia sudah berkeliling ke beberapa Taman Nasional di Indonesia saat masih mahasiswa. Wah menginspirasi sekali!
Setelah mengikuti magang di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS)-Stasiun Penelitian dan Konservasi Way Canguk, Kabupaten Lampung Barat dan bergabung dalam ‘Geng Ornit’ di kampus, saya mendapatkan pengalaman menarik yang lain. Yaitu melakukan survei keberadaan jenis burung langka, Tokhtor Sumatera Carpococcyx viridis, di TNBBS.

Jenis burung endemik Sumatera ini diketahui hanya dari koleksi spesimennya di beberapa museum zoologi di kota Leiden dan Genoa.Terbayang betapa para naturalis dari Eropa sudah berkeliling mengeksplorasi kekayaan alam nusantara jauh sebelum indonesia merdeka.
Lokasi survei ditentukan berdasarkan data awal yang didapatkan dari rekan-rekan yang pernah melakukan penelitian di TNBBS. Observasi di alam dilakukan dengan pengamatan langsung dan penggunaan kamera jebak.
Alternatif lain dengan melakukan pengamatan di pasar burung tradisional dan wawancara pada pemburu-pemburu burung. Kami menanyakan record tangkapan mereka selama ini dengan menunjukkan gambar Tokhtor dan juga burung lain yang statusnya terancam karena perburuan dan perdagangan. Dengan memperkenalkan diri sebagai mahasiswa yang sedang melakukan penelitian dan kemampuan berbahasa lokal, kami mudah memperoleh data dan informasi.
Pada Januari 2007, Toni, salah seorang pemburu dan pedagang burung di pasar tradisional Liwa, Lampung, memperlihatkan burung tangkapan teman-temannya, Gamal dan Andi, dari Hutan Way Titias, Liwa. Saya melihat seekor burung dengan ukuran sebesar ayam, ekornya panjang, mantelnya hijau metalik, merah kebiruan di belakang matanya dalam sangkar. Dua pasang cakar simetris ke depan dan belakang di kakinya semakin meyakinkan saya bahwa ini adalah Tokhtor Sumatera Carpococcyx viridis. Menurut Toni burung ini sulit dijerat di hutan. Sepanjang hidupnya sebagai pemburu selama 20 tahun, ini adalah tangkapan yang ketiga kali. Kami juga memperoleh sejumlah data rekaman suara dari burung tangkapan ini. Setelah itu, kami lepasliarkan burung itu kembali ke Hutan Way Titias.

Pengamatan bersama Toni dan Gamal berlanjut di hutan Way Titias, tempat mereka menjerat tokhtor tersebut. Habitat hutan perbukitan dengan ketinggian berkisar 800-1200 m, dengan anakan Sungai Titias banyak membelah hutan, sehingga variasi topografinya lembah. Tutupan bawah yang sangat rapat terdiri dari rotan, palem, dan pancang lainnya mewakili sifat burung tanah yang cryptic (suka bersembunyi) dan elusive (menghindar). Hasilnya sangat memuaskan. Pada pagi hari saat rekaman calling diperdengarkan, bersahut balas dengan suara burung Tokhtor Sumatera liar lain. Kami pun melihat dua ekor burung yang selama kurang lebih dari 80 tahun tidak pernah ada catatannya, baik dari ahli-ahli burung dalam dan luar negeri.
Setelah lokasi sudah diketahui dan suara rekaman sudah didapatkan, kami mengingatkan pada Toni, Gamal, dan Andi bahwa akan ada banyak sekali tamu dari pengamat burung yang datang. Kami pun meminta mereka untuk menjadi penunjuk jalan bagi para tamu tersebut. “Akan ada banyak penghasilan yang jauh lebih besar dari sekadar berburu burung di hutan,” ujar saya.
Beberapa bulan berlalu, Toni mengabarkan bahwa ia dan teman-teman sudah beralih profesi menjadi penunjuk jalan di hutan. Ia menutup kios burungnya dan beralih menjadi pemasok pupuk alam. Gamal tetap bertani namun tidak mau berburu lagi. Ia menganggap burung-burung liar yang ada adalah tabungan yang harus ia jaga karena dapat mendatangkan rezeki. Sedangkan Andi beralih profesi dengan mengikuti pembinaan Taman Nasional dalam pemeliharaan plot anggrek hutan dan tanaman hias.
Betapa indahnya jika para pemburu mendapatkan pengetahuan dan kesempatan untuk hidup lebih baik. Burung terjaga kehidupannya, begitu pun alam.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking